Breaking

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Dari Ujung Barat Negeri, Gerakan Rakyat Serukan Revolusi Keadilan Ekologis

Dari Ujung Barat Negeri, Gerakan Rakyat Serukan Revolusi Keadilan Ekologis

Citra
Citra
calendar_today
schedule 4 min read

Sabang, Aceh – Tepat pada 21 Februari 2026, Gerakan Rakyat menandai satu tahun perjalanannya dengan langkah yang sarat pesan moral dan politik. Bukan perayaan mewah atau seremoni formal yang dipilih, melainkan aksi penanaman pohon di Kilometer Nol Indonesia, Sabang. Di titik geografis paling barat Nusantara itu, organisasi ini menegaskan arah perjuangannya: membangun Indonesia yang berkeadilan dengan fondasi keberlanjutan lingkungan.

Dipimpin langsung oleh Ketua Umum Sahrin Hamid, kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa perjuangan sosial tidak dapat dipisahkan dari komitmen ekologis. Dari KM 0, sebuah titik yang menandai awal bentang Indonesia, Gerakan Rakyat menyampaikan pesan kuat bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran menjaga bumi sebagai ruang hidup bersama.

Rombongan tiba di Aceh melalui Bandara Sultan Iskandar Muda pada Sabtu siang sekitar pukul 14.45 WIB. Kehadiran mereka disambut jajaran Dewan Pimpinan Wilayah Aceh dan sejumlah pimpinan daerah dari Banda Aceh, Aceh Besar, hingga Bireuen. Sambutan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk dukungan nyata terhadap agenda lingkungan yang kini menjadi prioritas perjuangan organisasi.

Perjalanan dilanjutkan menuju Sabang menggunakan kapal cepat. Laut yang membentang luas menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang keberlanjutannya sangat ditentukan oleh kelestarian alamnya. Setibanya di Sabang, rombongan menunaikan ibadah sebelum bergerak menuju lokasi acara utama di kawasan KM 0.

Di lokasi yang menjadi simbol batas barat Indonesia itu, Sahrin Hamid bersama jajaran pimpinan wilayah dan daerah menanam pohon secara simbolis. Ia menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan komitmen merawat bumi sebagai amanah konstitusi sekaligus tanggung jawab moral. Menurutnya, menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban kebangsaan.

Sabang dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini memiliki nilai historis yang kuat sebagai pelabuhan strategis pada masa kolonial dan dikenal luas sebagai “Serambi Mekah.” Warisan sejarah dan spiritualitas tersebut menjadikan Sabang bukan sekadar lokasi geografis, tetapi ruang refleksi tentang perjalanan bangsa. Penanaman pohon di KM 0 pun menjadi simbol pertemuan antara sejarah, iman, dan visi masa depan Indonesia yang berkelanjutan.

Dalam refleksinya, Sahrin menggarisbawahi amanat konstitusi untuk melindungi seluruh tumpah darah Indonesia. Perlindungan itu, menurutnya, harus mencakup tanah, air, hutan, dan laut sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan rakyat. Tanpa lingkungan yang sehat, cita-cita keadilan sosial akan sulit diwujudkan.

Indonesia hari ini menghadapi tantangan ekologis yang tidak ringan. Deforestasi terus terjadi, lahan kritis meluas, pencemaran sungai dan laut mengancam kesehatan masyarakat, serta perubahan iklim membawa dampak nyata. Ironisnya, masyarakat kecil seperti petani, nelayan, dan komunitas adat menjadi pihak yang paling terdampak. Ketika hutan rusak, mereka kehilangan sumber penghidupan. Ketika laut tercemar, ekonomi keluarga ikut terguncang.

Gerakan Rakyat meyakini bahwa keadilan sosial dan keadilan ekologis adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Tidak ada kesejahteraan jangka panjang tanpa keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, organisasi ini mendorong penghentian praktik eksploitasi sumber daya alam yang merusak. Tata kelola hutan dan tambang harus transparan dan berpihak pada kepentingan rakyat. Hak masyarakat adat atas ruang hidupnya harus dijamin. Selain itu, transisi menuju ekonomi hijau yang berkeadilan perlu dipercepat.

Aksi di KM 0 Sabang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan nasional yang sebelumnya telah digelar di wilayah timur dan utara Indonesia. Pola tersebut menunjukkan konsistensi Gerakan Rakyat dalam menyuarakan agenda ekologis secara menyeluruh. Ini bukan gerakan sesaat, melainkan komitmen jangka panjang yang dirancang untuk membentuk kesadaran kolektif.

Lebih dari sekadar kegiatan organisasi, penanaman pohon ini adalah ajakan terbuka bagi seluruh elemen bangsa. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas, hingga individu memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga bumi. Menanam satu pohon mungkin terlihat sederhana, tetapi ia menyimpan makna keberlanjutan dan harapan bagi generasi mendatang.

Pesan dari ujung barat Indonesia disampaikan dengan tegas: hentikan penggundulan hutan, batasi eksploitasi berlebihan, dan bangun Indonesia dengan paradigma pembangunan berkelanjutan. Pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan akan melahirkan ketimpangan dan krisis baru.

Satu tahun perjalanan Gerakan Rakyat menjadi momentum refleksi sekaligus peneguhan arah perjuangan. Organisasi ini menegaskan bahwa keberpihakan pada rakyat harus berjalan seiring dengan keberpihakan pada alam. Tanpa keseimbangan keduanya, visi Indonesia yang adil dan makmur akan sulit tercapai.

Penanaman pohon di Kilometer Nol Sabang bukanlah titik akhir, melainkan awal perjalanan panjang. Seperti pohon yang ditanam hari itu, komitmen terhadap keadilan ekologis diharapkan tumbuh kokoh, berakar kuat, dan memberi manfaat luas bagi bangsa. Dari titik nol Indonesia, semangat perubahan dikobarkan—mengajak seluruh rakyat untuk bergerak bersama menjaga bumi sebagai rumah bersama.