Breaking

Ingin upgrade skill tanpa ribet? Temukan kelas seru dan materi lengkap hanya di YukBelajar.com. Mulai langkah suksesmu hari ini! • Mau lulus? Latih dirimu dengan ribuan soal akurat di tryout.id.

Satu Tahun Gerakan Rakyat: Momentum Konsolidasi dan Aksi Hijau untuk Kalimantan Tengah

Satu Tahun Gerakan Rakyat: Momentum Konsolidasi dan Aksi Hijau untuk Kalimantan Tengah

Citra
Citra
calendar_today
schedule 4 min read

Memasuki usia satu tahun, Gerakan Rakyat di Kalimantan Tengah tidak memilih merayakan hari jadinya dengan seremoni semata. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Rakyat Kalteng bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Rakyat Kabupaten Katingan justru menjadikan momen ini sebagai panggung pembuktian komitmen melalui aksi nyata: gerakan tanam pohon sebagai langkah strategis menjaga kelestarian lingkungan.

Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 yang digelar pada Minggu (22/02/2026) bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ini adalah bentuk konsolidasi nilai, penguatan visi, sekaligus penegasan bahwa Gerakan Rakyat hadir bukan hanya sebagai entitas struktural, tetapi sebagai motor perubahan sosial yang responsif terhadap persoalan nyata di masyarakat.

Aksi penghijauan tersebut merupakan tindak lanjut dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Gerakan Rakyat yang diselenggarakan pada 18 Januari 2026 di Hotel Arya Duta Jakarta. Dalam forum nasional itu, isu kerusakan lingkungan dan meningkatnya intensitas bencana banjir di berbagai daerah menjadi pembahasan utama. Hasilnya jelas: organisasi harus mengambil peran aktif dalam mitigasi, bukan hanya menyuarakan keprihatinan.

Dari sinilah lahir gerakan “Satu Orang Satu Pohon”, sebuah inisiatif partisipatif yang sederhana namun berdampak besar. Konsepnya lugas: setiap kader dan simpatisan didorong untuk menanam dan merawat minimal satu pohon. Jika dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan, dampaknya akan signifikan terhadap rehabilitasi lingkungan.

Langkah ini sangat relevan dengan kondisi Kalimantan Tengah yang menghadapi tantangan serius akibat deforestasi dan pembalakan liar. Kerusakan tutupan hutan bukan hanya berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu persoalan turunan seperti banjir, longsor, hingga degradasi kualitas tanah. Dalam konteks ini, aksi tanam pohon bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

Ketua DPD Gerakan Rakyat Kabupaten Katingan, Sulardi, menekankan bahwa kekuatan gerakan terletak pada kesadaran kolektif. Menurutnya, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membayangkan dampak konkret apabila ratusan hingga ribuan orang bergerak serempak menanam pohon. Setiap batang yang tumbuh akan menjadi investasi ekologis jangka panjang—menjaga cadangan air tanah, memperbaiki struktur tanah, serta mengurangi risiko banjir saat musim hujan tiba.

Senada dengan itu, Wakil Ketua DPW Gerakan Rakyat Kalteng, Ali Wardana, menegaskan bahwa berbagai bencana yang terjadi belakangan ini harus menjadi refleksi bersama. Kerusakan alam akibat eksploitasi berlebihan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Diperlukan komitmen moral dan tindakan konkret untuk memulihkan keseimbangan ekosistem.

Secara ekologis, pohon memiliki fungsi hidrologis yang krusial. Sistem perakaran membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan, dan menjaga stabilitas struktur tanah. Tanpa vegetasi yang memadai, curah hujan tinggi akan langsung berubah menjadi aliran deras yang berpotensi menimbulkan banjir. Inilah alasan mengapa gerakan penghijauan harus dipandang sebagai strategi mitigasi berbasis komunitas.

Namun peringatan HUT ke-1 ini tidak hanya diisi dengan aksi tanam pohon. Gerakan Rakyat juga menggelar bakti sosial untuk masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi sosial di sekitar. Selain itu, kaderisasi serentak dilakukan untuk memperkuat kapasitas internal organisasi. Langkah ini penting agar gerakan tidak hanya kuat di lapangan, tetapi juga solid secara struktur dan ideologi.

Pemasangan atribut dan bendera organisasi di berbagai titik strategis turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Hal ini bukan sekadar simbol eksistensi, tetapi penegasan bahwa Gerakan Rakyat siap hadir dan bekerja untuk masyarakat secara berkelanjutan.

Di usia yang masih relatif muda, tantangan terbesar sebuah organisasi adalah menjaga konsistensi dan relevansi. Gerakan Rakyat Kalteng dan Katingan menunjukkan bahwa konsistensi dibangun melalui aksi yang berorientasi solusi. Alih-alih terjebak pada retorika, mereka memilih pendekatan implementatif yang dapat dirasakan langsung manfaatnya.

Momentum satu tahun ini semestinya menjadi titik tolak untuk memperluas partisipasi publik. Gerakan penghijauan tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat luas. Oleh karena itu, ajakan untuk terlibat harus terus digaungkan—bahwa menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga.

Bayangkan jika gerakan “Satu Orang Satu Pohon” terus bergulir setiap tahun, diperluas ke sekolah, komunitas, dan desa-desa. Dampaknya bukan hanya pada meningkatnya jumlah pohon yang tumbuh, tetapi juga pada terbentuknya budaya peduli lingkungan yang mengakar kuat.

Perayaan HUT ke-1 Gerakan Rakyat di Kalimantan Tengah pada akhirnya bukan sekadar peringatan hari lahir organisasi. Ini adalah deklarasi komitmen untuk tumbuh bersama alam, memperkuat solidaritas sosial, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi daerah. Dengan fondasi kebersamaan dan aksi konkret, Gerakan Rakyat berupaya membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk bertindak hari ini.